Sejarah Pahlawan Adisucipto, Bapak Penerbangan Pertama Indonesia

Pernahkah Anda terbang dari Jakarta ke Jogjakarta? Atau rute lain yang bertujuan mendarat di kota Jogja? Jika iya, maka Anda pasti akan berada di Adisucipto International Airport, Jogja. Ini merupakan satu-satunya bandara di kota Gudeg yang rencananya akan di ganti peranya oleh bandara Kulonprogo. Jogja akan memiliki bandara berkelas internasional setelah pemerintah setempat berhasil merampungkan pembuatan bandara di sekitar Kulon Progo. Kelak, bandara baru di Jogja akan menjadi bandara modern dan paling megah di pulau Jawa. Namun, nama Adisucipto tak akan pernah luput begitu saja. Sejarah pahlawan Adisucipto yang juga turut menyumbang pikiran dan tenaganya di masa kemerdekaan ini akan tetap terkenang dan harum namanya.

Biografi Singkat Pahlawan Adisucipto

Meski sebenarnya bukan berasal dari Jogjakarta, namun pahlawan Adisucipto terlanjur dikenal sebagai Letnan Muda Udara yang mengharumkan nama bangsa berkat kecerdasan hingga akhirnya namanya diabadikan sebagai bandara. Ia lahir di Salatiga, Jawa Tengah. Terlahir dari keluarga yang berkecukupan, Adisucipto kecil menempuh pendidikan di AMS Semarang dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Meski Ayahnya memasukkan Adisucipto ke sekolah kedokteran yang berada di Jakarta, namun tekadnya untuk menjadi tentara menjadi bahan bakar yang terus menggelora dalam mewujudkan mimpinya. Secara diam-diam, Adisucipto mengikuti tes militer hingga akhirnya diterima di Sekolah Penerbangan Militer yang berlokasi di kota Subang. Dari situlah sejarah pahlawan Adisucipto mulai tercipta.

Berkat kecerdasan yang dimilikinya, beliau bisa lulus lebih cepat dan diberi gelar Letnan Muda. Tak lama berselang, pahlawan Adisucipto pun mendapatkan brevet penerbangan kelas atas. Di masa itu, mendapatkan brevet penerbangan kelas atau merupakan sebuah hal yang mustahil untuk anak bangsa. Namun berkat kepiawaiannya, Adisucipto menjadi orang pertama yang bisa mendapatkan brevet tersebut. Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia pun menjadi titik balik karir cemerlan Adisucipto. Presiden Soekarno melalui  Surjadi Suryadarma akan membuat angkatan udara Indonesia. Ia pun memerintahkan Adisucipto untuk membantunya mempersiapkan pasukan udara karena pada saat itu kondisi yang terjadi sungguh sangat memprihatinkan. Tak ada dana, tak ada armada, dan tak ada satupun mekanik yang mengerti seluk beluk pesawat terbang. Indonesia hanya memiliki pesawat bekas yang merupakan milik pemerintah Jepang.

Meski demikian, kecintaannya terhadap tanah air dan jiwa militer yang menggelora membuat Adisucipto nekat untuk memperbaiki pesawat bekas tersebut guna diterbangkan di atas langit Indonesia. Pada 10 Oktober tahun 45, ia pun menerbangkan pesawat milik Jepang bernama Nishiroken dari Tasik ke Jogja. Pesawat ini pun dilapisi cat berwarna merah putih layaknya bendera Indonesia. Tak lama berselang, ia kembali menerbangkan pesawat di sekitar langit Jogjakarta. Tujuannya jelas, Adisucipto ingin terus membakar semangat masyarakat dan pejuang untuk tetap menjaga kedaulatan dan kemerdekaan.

Surjadi Suryadarma dan Adisucipto pun menggagas sekolah penerbangan pertama di Indonesia. Dengan pesawat bekas seadanya dan 31 siswa pertama, dua orang ini berhasil meluluskan kadet-kadet yang menjadi cikal bakal angkatan udara Indonesia. Ia pun kerap terbang untuk mengebom tangsi Belanda yang ada di Ambarawa, Salatiga hingga Semarang. Keberhasilan misi tersebut membuat Adisucipto dipercaya untuk menjalankan misi kemanusiaan yang digagas Palang Merah Indonesia. Ia pun terbang membawa obat-obatan. Namun sayangnya, saat hendak mendarat di bandara Maguwo, pesawat yang ditumpangi bersama 7 orang rekannya ditembak jatuh oleh pesawat Belanda. Ia pun meninggal di usia muda. Meski demikian, sejarah pahlawan Adisucipto akan tetap dikenang dan abadi.

Baca juga : Bandara Kulon Progo, Bandara Bertaraf Internasional di Jogja